Dibaca 56
Oleh: Wajidi Sayadi
Materi ini adalah Khutbah Jumat 13 Pebruari 2026 kemarin yang disampaikan di Masjid Raya Mujahidin Pontianak.
Alhamdulillah, hari ini tanggal 25 Sya’ban 1447 H akhir bulan Sya’ban tidak lama lagi kita masuk bulan suci Ramadhan. Bagi kita umat Islam, Ramadhan adalah momentum yang sangat baik dalam rangka menata diri, menata hati, jiwa dan pikiran menjadi pribadi bertakwa melalui ibadah puasa Ramadhan dan rangkaian ibadah-ibadah lainnya. Allah Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183).
Ayat ini turun di bulan Sya’ban, tapi pelaksanaan ibadah puasanya di bulan Ramadhan.
Mengapa?
Salah satu makna dan hikmahnya adalah agar ada waktu mempersiapkan diri mempersiapkan bekal dengan baik menyambut dan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Ada beberapa bekal yang harus dipersiapkan antara lain:
- Bekal persiapan mental dan spritual
Dalam ayat tentang kewajiban ibadah puasa, Allah mengawali dengan panggilan يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا (Wahai orang-orang beriman) ini artinya harus ada persiapan keimanan, harus ada kemauan kuat dan tekad yang ikhlas, harus ada keyakinan bahwa puasa adalah wajib dilaksanakan selama tidak ada halangan syar’i.
Demikian juga kita harus yakin dengan sepenuh hati mengenai keistimewaan bulan Ramadhan dan keistimewaan ibadah puasa.
Salah satu kebiasaan Rasulullah SAW. di akhir bulan Sya’ban jelang Ramadhan, Beliau selalu memberi motivasi agar selalu merasa senang, selalu merasa gembira, memperlihatkan wajah cerah ceria, dan selalu optimis menyambut datangnya bulan Ramadhan. Beliau bersabda:
قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah, bulan yang Allah mewajibkan kalian berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka jahanam ditutup, setan-setan dibelenggu, dan pada bulan itu ada satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan, maka siapa terhalang darinya sungguh ia telah terhalang dari kebaikan.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).
Seorang sahabat Nabi SAW. bernama Abu Umamah al-Bahiliy datang kepada Rasulullah SAW. dan menyatakan:
مُرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا عِدْلَ لَهُ
Perintahkanlah kepadaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga. Rasulullah SAW. bersabda, “Anda harus berpuasa, karena ia tidak ada bandingannya.” (HR. Ahmad dari Abu Umamah al-Bahili).
- Bekal persiapan pengetahuan atau informasi mengenai hukum-hukum ibadah puasa, wajibnya dan tujuan berpuasa, hal-hal yang membatalkan ibadah puasa, mengenai shalat-shalat sunat, mengenai zakat, infak dan sedekah.
Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فلَا صِيَامَ لَهُ
Siapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya. (HR. Abu Daud dari Hafshah isteri Nabi SAW.).
Masalah niat sebagai rukun puasa seperti ini harus diketahui. Demikian juga sangat penting adalah target atau tujuan puasa agar menjadi orang yang bertakwa, لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ (agar kalian bertakwa).
- Persiapan lingkungan keluarga dan sosial yang harmonis,
- Persiapan kesehatan fisik.
- Persiapan kebutuhan pokok sehari-hari dalam rumah tangga.
Hal ini disabdakan Rasulullah SAW.:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
Siapa di antara kalian di pagi hari merasa aman ditengah-tengah keluarganya (dan sosial), sehat fisiknya, memiliki kebutuhan pokok sehari-harinya yang cukup, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya. (HR. Tirmidzi dari ‘Ubaidillah bin Mihshan).
Dalam hadis ini, ada tiga hal yang perlu dipersiapkan:
- Lingkungan keluarga dan sosial yang aman dan harmonis. Keluarga suami-istri, anak, dan orang tua yang harmonis, akan sangat mendukung kelancaran proses ibadah puasa dan ibadah lainnya selama Ramadhan.
- Sehat fisik jasmani adalah kebutuhan pokok dalam mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Rasulullah SAW. bersabda:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
Orang mukmin yang kuat sehat lebih baik daripada mukmin yang lemah yang sakit. (HR. Muslim dari Abu Hurairah).
- Kebutuhan pokok sehari-hari terpenuhi. Ini adalah hal yang pasti, setiap hari keperluan untuk sahur dan buka puasa serta memberi dan berbagi kepada orang lain.
- Berdoa dan saling mendoakan, saling men-support, saling memotivasi antara satu dengan lain.
Misalnya dengan mengucapkan kalimat Marhaban ya Ramadhan Selamat datang bulan Ramadhan Selamat menjalankan ibadah puasa dengan penuh khusyu dan tawadhu. Semoga menjadi manusia bertakwa.
Marhaban berasal dari kata rahbun artinya luas dan lapang. Maksudnya dengan kedatangan bulan Ramadhan kita menyambutnya dengan jiwa lapang dan luas. Selalu merasa senang dan penuh kegembiraan, sehingga ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya menjadi ringan dan nyaman dilaksanakan tanpa ada rasa berat dan susah.
Pontianak. 25 Sya’ban 1447 H/13 Pebruari 2026