Dibaca 7
Oleh: Wajidi Sayadi
Nama Baharuddin Lopa bukanlah nama asing dalam sejarah penegakan hukum di Indonesia. Sosoknya dikenal luas sebagai pendekar hukum yang tegas, berani, sederhana, dan sulit berkompromi dengan ketidakadilan. Banyak tulisan, buku, dan ulasan telah mengangkat perjalanan hidup serta perjuangannya. Namun, tulisan ini bukanlah kajian akademik atau biografi resmi. Ini adalah kesaksian pribadi tentang bagaimana sosok beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika saya studi Program Magister dan Doktor, saya tinggal serumah dan membersamai Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH. selama kurang lebih tiga tahun di Komplek Pondok Bambu Jakarta Timur. Pada masa itu Beliau menjabat sebagai Dirjen Pemasyarakatan, kemudian Sekjen Komnas HAM, Duta Besar RI untuk Arab Saudi di Riyadh, Menteri Kehakiman, hingga menjadi Jaksa Agung Republik Indonesia sampai wafatnya pada 3 Juli 2001 di Riyadh, Arab Saudi.
Sejak wafatnya hampir 25 tahun lalu, penulis belum pernah menulis secara khusus tentang beliau, kecuali sebuah biografi singkat yang dimuat dalam buku Yasin dan Tahlil menjelang acara 40 hari wafatnya. Namun, dua peristiwa yang terjadi baru-baru ini kembali membuka lembaran kenangan panjang bersama Beliau.
Peristiwa pertama adalah acara bedah dan diskusi buku kecil berjudul Biografi Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH. (Kesaksian Seorang Jaksa Berintegritas) karya Prof. Dr. H. Ahmad Sewang, MA. Acara tersebut diselenggarakan di kampung halaman beliau, Pambusuang, Kecamatan Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tepatnya di Aula Pondok Pesantren An-Nuhiyah Pambusuang.
Beberapa hari sebelum acara berlangsung, Prof. Ahmad Sewang menelepon saya agar bisa hadir dan menyampaikan testimoni tentang sosok Baharuddin Lopa. Undangan itu menjadi pintu terbukanya kembali kenangan-kenangan lama yang selama ini tersimpan rapat dalam ingatan.
Peristiwa kedua adalah resepsi pernikahan cucu Prof. Baharuddin Lopa, Ananda Ghina Ashila, putri Ir. H. Iskandar Muda Baharuddin Lopa, yang berlangsung di Jakarta pada 2 Mei 2026 lalu. Dalam acara tersebut, hadir banyak sahabat lama yang dahulu akrab disebut sebagai “Alumni Pondok Bambu”, yaitu mereka yang pernah dekat dan sering berkumpul di rumah kediaman Prof. Baharuddin Lopa. Pertemuan itu menghadirkan nostalgia yang begitu kuat. Ingatan yang telah berlalu seperempat abad seakan hidup kembali.
Sesungguhnya tulisan tentang sosok Baharuddin Lopa sudah cukup banyak. Berbagai media dan buku telah menggambarkan ketokohannya dari beragam sudut pandang. Di antaranya buku Lopa yang Tak Terlupa karya Alif We Onggang, kemudian Apa dan Siapa Baharuddin Lopa: Sketsa Perjalanan Seorang “Barlop”, Pendekar Hukum dan Keadilan Indonesia karya Hendro Dewanto dan kawan-kawan, serta buku 1001 Kisah Baharuddin Lopa. Semua tulisan itu memperlihatkan betapa besar pengaruh dan keteladanan beliau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, apa yang ingin penulis sampaikan di sini lebih sederhana: kesaksian tentang bagaimana beliau menjalani hidup sehari-hari.
Prof. Dr. H. Baharuddin Lopa, SH. lahir pada 27 Agustus 1935 di Pambusuang, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar. Penulis sendiri berasal dari Campalagian, kecamatan tetangga yang juga merupakan kampung halaman istri beliau, Hj. Andi Indrawulan.
Beliau wafat pada 3 Juli 2001 di Arab Saudi ketika masih menjabat Jaksa Agung Republik Indonesia, dalam usia 65 tahun 11 bulan. Secara biologis, usia beliau memang relatif singkat. Namun, jejak perjuangan dan keteladanannya membuat nama Baharuddin Lopa tetap hidup hingga hari ini.
Ada banyak alasan mengapa sosok beliau terus dikenang masyarakat. Pertama, beliau memiliki prinsip tauhid yang sangat kokoh. Dalam dirinya hampir tidak ditemukan sikap berpura-pura atau rekayasa pencitraan. Apa yang beliau yakini, itulah yang beliau jalani. Kedua, beliau dikenal sangat berani dan tegas dalam menegakkan kebenaran. Ketegasan itu tidak lahir dari kemarahan, tetapi dari keyakinan moral dan tanggung jawab kepada Allah serta bangsa.
Selain itu, beliau juga dikenal jujur, sederhana, dan sangat berhati-hati dalam bersikap. Di tengah jabatan tinggi yang beliau emban, bahkan sebelumnya sangat banyak jabatannya pernah Kepala Kejaksaan Negeri Maluku Utara, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara, Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Aceh, Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Kapusdiklat Kejaksaan Agung RI., Staf Ahli Menteri Kehakiman RI., namun kehidupan pribadinya dan keluarganya tetap bersahaja sangat sederhana. Beliau tidak memperlihatkan kemewahan, bahkan hidup sederhana sebagaimana masyarakat biasa.
Hal lain yang sangat membekas adalah kedekatan beliau dengan para ulama dan tokoh agama. Dalam banyak kesempatan, beliau selalu menghormati dan meminta nasihat kepada para alim ulama.
Bagi penulis, membersamai Prof. Baharuddin Lopa bukan sekadar pengalaman tinggal serumah dengan seorang pejabat negara. Lebih dari itu, ia adalah pelajaran hidup tentang integritas, keberanian, dan ketulusan dalam memperjuangkan kebenaran.
Kini, hampir seperempat abad setelah kepergiannya, bangsa ini masih merindukan sosok seperti beliau. Sosok yang berbicara apa adanya, bekerja dengan hati nurani, dan tidak takut menghadapi risiko demi menegakkan hukum dan keadilan.
Pontianak, 23 Mei 2026