HARI TASYRIK: BAGIAN DARI HARI RAYA DALAM ISLAM

Oleh: Wajidi Sayadi
Tulisan ini merupakan bagian dari materi Khutbah Jumat yang disampaikan pada 12 Dzulhijjah 1447 H/29 Mei 2026 di Masjid Al-Jamaah, Pontianak.
Setelah umat Islam merayakan Iduladha pada tanggal 10 Dzulhijjah, masih ada tiga hari istimewa yang disebut hari-hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Banyak orang memahami Iduladha hanya berlangsung satu hari, padahal dalam ajaran Islam, suasana hari raya masih berlanjut hingga berakhirnya hari-hari Tasyrik. Allah Swt. berfirman:
وَاذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدٰتٍ
“Berzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya.” (QS. Al-Baqarah: 203).
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya” dalam ayat tersebut adalah hari-hari Tasyrik, tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari-hari itu umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak zikir, di antara maksud dzikir adalah takbir:
الله أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, dan segala puji bagi Allah.”
Oleh karena itulah, sejak Idul Adha hingga berakhirnya hari Tasyrik pada tanggal 13 Dzulhijjah, kaum Muslimin disunnahkan memperbanyak takbir, termasuk setelah menunaikan shalat fardu.
Hari-Hari Tasyrik adalah Hari Raya Umat
Hari-hari Tasyrik bukan sekadar hari biasa setelah Iduladha. Rasulullah saw. menegaskan bahwa hari-hari tersebut merupakan bagian dari hari raya umat Islam.
Rasulullah SAW. bersabda:
يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ
“Hari Arafah, Hari Nahar (Iduladha), dan hari-hari Tasyrik adalah hari raya kami, umat Islam. Hari-hari tersebut merupakan hari makan dan minum.” (HR. Tirmidzi dari Uqbah bin Amir).
Hadis ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan. Setelah menjalankan berbagai ibadah yang berat dan penuh pengorbanan, umat Islam diberi kesempatan untuk menikmati karunia Allah dengan penuh rasa syukur.
Bahkan Rasulullah saw. melarang umat Islam berpuasa pada hari raya dan hari-hari Tasyrik. Sa’ad bin Abi Waqqash ra. meriwayatkan:
أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أُنَادِيَ أَيَّامَ مِنًى إِنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ فَلَا صَوْمَ فِيهَا
“Rasulullah saw. memerintahkanku untuk menyerukan pada hari-hari Mina bahwa hari-hari tersebut adalah hari makan dan minum, maka tidak boleh berpuasa pada hari-hari itu.” (HR. Ahmad).
Dalam hadis lain, Rasulullah saw. bersabda:
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ طُعْمٍ وَذِكْرِ اللَّهِ
“Hari-hari Tasyrik adalah hari-hari untuk makan dan berzikir kepada Allah.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah)
Keseimbangan Jasmani dan Rohani
Pesan yang terkandung dalam hari-hari Tasyrik sangat indah. Umat Islam diajak untuk bergembira dengan memenuhi kebutuhan jasmani melalui makan dan minum yang halal, sekaligus memenuhi kebutuhan rohani dengan memperbanyak zikir dan mengingat Allah.
Inilah gambaran kehidupan yang baik (hayatan ṭayyibah), yaitu kehidupan yang seimbang antara kebutuhan fisik dan kebutuhan spiritual. Islam tidak mengajarkan kehidupan yang hanya berorientasi pada dunia, tetapi juga tidak mengabaikan kebutuhan manusia sebagai makhluk jasmani.
Hikmah Hari-Hari Tasyrik
Penetapan hari-hari Tasyrik dalam syariat Islam mengandung banyak hikmah dan pelajaran berharga, di antaranya:
1. Menghidupkan Zikir dan Syiar Islam
Hari-hari Tasyrik menjadi momentum untuk memperbanyak takbir, tahmid, dan berbagai bentuk zikir lainnya sebagai wujud pengagungan kepada Allah Swt.
2. Menumbuhkan Rasa Syukur
Melalui ibadah kurban dan berbagai nikmat yang diberikan Allah, umat Islam diajak untuk semakin menyadari betapa besarnya karunia yang telah dianugerahkan kepada mereka.
3. Mempererat Ukhuwah dan Solidaritas Sosial
Pembagian daging kurban menjadi sarana berbagi kebahagiaan, memperkuat persaudaraan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama, terutama mereka yang membutuhkan.
4. Menghadirkan Kegembiraan yang Bernilai Ibadah
Islam mengajarkan bahwa kegembiraan tidak harus menjauhkan manusia dari ibadah. Pada hari-hari Tasyrik, kegembiraan, makan dan minum, silaturahmi, serta zikir kepada Allah berpadu menjadi satu kesatuan yang bernilai ibadah.
Hari-hari Tasyrik mengajarkan kepada kita bahwa Islam adalah agama yang seimbang. Di dalamnya terdapat ruang untuk beribadah, bersyukur, berbagi, dan bergembira secara bersamaan. Oleh karena itu, marilah kita memanfaatkan hari-hari yang mulia ini dengan memperbanyak zikir, mensyukuri nikmat Allah, mempererat tali persaudaraan, serta berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Semoga Allah Swt. menerima ibadah kurban kita, menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur, dan mempertemukan kita kembali dengan hari-hari penuh keberkahan di masa yang akan datang.
Pontianak, 12 Dzulhijjah 1447 H / 29 Mei 2026
Posted in: Kajian Islam

Leave a Comment