Dibaca 45
Oleh: Wajidi Sayadi
Materi ini bagian dari Ngaji Hadaiq al-Haqaiq rutin di Surau Babul Jannah di Pontianak.
Kali ini pembahasannya mengenai Tawakkal.
Dalam mengarungi kehidupan dunia ini sangat diperlukan kemampuan akal dan kekuatan fisik. Namun dalam persoalan agama, selain akal dan fisik, juga sangat penting adalah kekuatan dan ketulusan hati dan jiwa. Banyak hal dalam beragama yang dianggap tidak masuk akal, namun dapat dipahami berdasarkan pendekatan hati.
Salah satu amalan hati yang bisa mengatasi keterbatasan dan kebuntuan akal dan ikhtiar adalah Tawakkal.
Semakin tinggi keyakinan dan kebeningan hati seseorang akan semakin tinggi pula tingkat tawakkal-nya kepada Allah dan semakin tenang pula hati, jiwa dan pikirannya.
Tawakkal artinya menaruh kepercayaan sepenuhnya hanya kepada Allah dan putus asa dari apa yang ada pada diri manusia. Maksudnya tidak mengandalkan sepenuhnya pada kekuatan dan kemampuan ikhtiar dirinya dan orang lain sebagai manusia.
Tawakkal adalah wujud kesempurnaan keyakinan pada Allah.
Keyakinan itu berlandaskan berbaik sangka kepada Allah, mempercayai sepenuhnya terhadap rezki yang dijanjikan Allah serta meridhai terhadap ketentuan dan yang berlaku dari qadha dan qadar-Nya.
Allah akan memberikan jaminan kecukupan hidup bagi orang-orang yang bertawakkal.
وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُه
Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. (QS. Ath-Thalaq, 65: 3).
Rasulullah SAW. bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan kalian rizeki sebagaimana seekor burung yang diberi rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ibnu Majah dari Umar bin Khattab).
Anas bin Malik menceritakan, ada seorang lelaki yang bertanya: Wahai Rasulullah apakah aku harus mengikat untaku kemudian bertawakkal atau aku melepaskannya saja kemudian bertawakkal? beliau menjawab:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
Ikat dulu untamu, kemudian bertawakkallah.” (HR. Tirmidzi dari Anas bin Malik).
Ikhtiar dulu semaksimal mungkin, lalu setelah itu serahkan sepenuhnya kepada Allah.
Belajar dulu berenang, baru melompat ke sungai, lalu bertawakkal pada Allah.
Melompat ke dalam sungai, padahal tidak pernah belajar berenang dan tidak tahu berenang, hanya mengandalkan tawakkal pada pertolongan Allah, ini namanya sok tawakkal.
Semoga Bermanfaat
Pontianak, 10 Januari 2026