Dibaca 79
PONTIANAK – wajidisayadi.com, Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kalimantan Barat menggelar acara peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Aula Kanwil Kemenag Kalbar pada Jumat (6/3). Acara ini menghadirkan Guru Besar Ilmu Hadis IAIN Pontianak sekaligus Wakil Ketua Umum MUI Kalbar, Prof. Dr. KH. Wajidi Sayadi, M.Ag., sebagai penceramah.
Mengangkat tema “Al-Quran, Amanah Ekologis, dan Jalan Perdamaian Dunia”, Prof. Wajidi membedah secara mendalam makna turunnya Al-Qur’an dan relevansinya terhadap pembentukan akhlak, pelestarian lingkungan, serta kerukunan umat.
Acara yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Kalbar beserta Ketua Dharma Wanita Persatuan, para Kepala Bidang, Kepala Kantor Kemenag Kota Pontianak, serta seluruh jajaran keluarga besar Kanwil Kemenag Kalbar.
Mengawali tausiyahnya, Prof. Wajidi mengingatkan bahwa esensi berkumpul di bulan Ramadan adalah untuk mempererat silaturahmi. Ia juga menyoroti tentang kebiasaan tadarus yang sering dilakukan umat Islam selama Ramadan. Menurutnya, tadarus tidak seharusnya berhenti pada aspek tilawah atau sekadar membaca teks.
“Tadarus itu dalam bahasa hadis namanya bermudarasan. Selain membaca juga menelaah, berusaha memahami, menghayati, mengamalkan, serta mendakwahkannya,” jelas Prof. Wajidi.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengupas filosofi ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yakni perintah membaca (Iqra). Mengutip pandangan mantan Rektor Al-Azhar Kairo, Syekh Abdul Halim Mahmud, Prof. Wajidi menjelaskan bahwa kata “Iqra” adalah simbol dari totalitas pergerakan dan aktivitas manusia.
“Membaca bukan sekadar membaca huruf di atas kertas. Jadikanlah seluruh aktivitas pergerakan dalam hidupmu, niat dan tujuanmu, hanya benar-benar untuk Tuhanmu. Membangun peradaban itu berawal dari membangun keyakinan, tauhid, dan akidah yang kuat,” tegasnya.
Namun, Prof. Wajidi memberikan peringatan penting. Dalam Surah Al-Alaq, perintah Iqra di awal surat ditutup dengan perintah Wasjud (sujudlah) dan Waqtarib (mendekatlah). Hal ini menyiratkan bahwa kecerdasan intelektual yang dilambangkan dengan membaca, harus diimbangi dengan kecerdasan spiritual yang dilambangkan dengan sujud.
“Iqra tanpa dibarengi dengan sujud bisa sangat berbahaya. Kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan spiritual akan melahirkan orang yang semakin pintar, tapi juga akan semakin sombong dan angkuh. Sujud melahirkan ketundukan hati dan ketaatan pada aturan, yang pada akhirnya memunculkan kecerdasan moral atau akhlak,” urai tokoh agama Kalimantan Barat tersebut.
Lebih lanjut, kecerdasan moral yang bersumber dari hati nurani inilah yang menjadi kunci utama dalam menjaga amanah ekologis dan merawat perdamaian dunia sesuai dengan tema acara. Menurut Prof. Wajidi, menjaga alam dan merawat kedamaian tidak bisa semata-mata mengandalkan rasionalitas akal.
“Menjaga alam dan mewujudkan perdamaian dunia itu tidak bisa hanya dengan akal. Karena akal dan nafsu itu beda-beda tipis. Dengan hati nurani dan ketawadhuan dalam beragama, insyaallah kita bisa menjaga alam dan merawat perdamaian, baik di tingkat yang sekecil-kecilnya sampai pada skala yang sangat besar,” pungkasnya.
Prof. Wajidi berharap momentum Ramadan ini mampu mencetak individu-individu yang paripurna, yakni umat yang tidak hanya saleh secara spiritual dan intelektual, tetapi juga saleh secara moral dan sosial. (Red)