HIDUP ITU HARUS SELALU OPTIMIS

 Oleh: Wajidi Sayadi

 

Materi ini bagian dari apa yang disampaikan dalam Ngaji Hadaiq al-Haqaiq Ahad Subuh Rutin di Surau Babul Jannah Pontianak.

Setiap orang dalam hidupnya pasti ada masalahnya. Model, bentuknya dan jumlahnya berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Salah satu modal dalam menghadapi berbagai macam masalah dan tantangan hidup adalah punya prinsip dan keyakinan selalu optmis bahwa semuanya akan selesai dan indah pada waktunya.

Dalam kajian Tasawuf, prinsip optimisme itu disebut dengan istilah ar-Raja’, yaitu pengharapan sepenuhnya kepada Allah.

Ar-Raja’ artinya pengharapan, maksudnya percaya sepenuhnya atas kemurahan Yang Maha Pemurah, mendekatkan hati ke mahalembutan Allah. Menghidupakan hati dengan selalu penuh harapan dan optimisme bahwa rahmat Allah sangat luas tak bertepi, Panjang tak berujung. Bahkan Rahmat Allah mengalahkan murka-Nya.

Sebagai orang beragama cirinya adalah selalu penuh harapan optimis, tidak ada rasa pessimis,  atau rasa putus asa, karena orang yang putus asa atau pessimis bukan sifat dan karakter orang-orang beriman, bukan sifat dan karakter orang-orang sukses. Sebaliknya, pessimis adalah sifat dan karakter orang-orang gagal.

Allah Ta’ala mengingatkan:

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّه لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf, 12: 87).

Nabi SAW. bersabda: “Sesungguhnya orang yang akan masuk surga adalah orang yang mengharapkannya. Dan orang yang bebas dari neraka adalah orang yang takut kepadanya.” (HR. Baihaqi dari Ibnu Umar).

Penuh harap Optimis harus selalu berprasangka baik kepada Allah, bahwa semua masalah apa pun dan seberat apa pun masalahnya, pasti Allah Yang Maha Pemurah akan memberikan solusi terbaik, sebagaimana yang diharapkan.

Dalam hadis Qudis, Rasulullah SAW. bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman:

“Aku adalah sebagaimana dalam prasangka hambaKu, jika ia berprasangka baik, maka ia akan mendapatkan yang baik, dan jika berprasangka buruk, maka ia akan memperoleh yang buruk.” (HR. Thabarani dan Ibnu Hibban dari Wailah).

Harapan dan optimisme tidak akan tercapai tanpa disertai rasa khauf (takut), sebagaimana rasa khauf (takut) juga tak akan tercapai tanpa disertai rasa ar-Raja’ atau harapan. Keduanya tak dapat dipisahkan.

Harapan (ar-Raja’) dan takut (al-Khauf) diibaratkan seperti sepasang sayap burung. Jika keduanya ada seimbang, maka burung akan terbang dengan seimbang dan sempurna. Jika salah satu sayapnya berat, maka terbangnya akan mengalami gangguan. Jika kedua sayapnya hilang, maka burung itu akan jatuh dan jadilah seperti bangkai.

Rasa al-Khauf atau takut kepada Allah harus dibuktikan dengan amal yang baik dan benar, menghindari larangan Allah dan melaksanakan perintah-Nya.

Allah Ta’ala menegaskan:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّه فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٓ اَحَدًا

Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya. (QS. al-Kahf, 18: 110).

Semoga Allah senantiasa menata hati, jiwa, dan pikiran selalu optimis menaruh harapan sebesar-besarnya kepada Allah Yang Maha Pemurah dan Adil.

Semoga Bermanfaat

Pontianak, 30 Nopember 2025

Posted in: Akhlak / Tasawuf

Leave a Comment