Dibaca 54
Materi ini merupakan bagian dari Ngaji Hadaiq al-Haqaiq Rutin Ahad Subuh di Surau Babul Jannah Pontianak.
Kali ini membahas tema tentang Miskin.
Umumnya Miskin dianggap bagian dari masalah kehidupan sehingga diusahakan agar keluar dari kemiskinan menjadi orang kaya, atau tidak miskin tapi juga tidak kaya.
Padahal justru di kalangan para ulama tasawuf, miskin adalah sesuatu yang didambakan karena bagian kemuliaan di sisi Allah. Pada hari akhirat kelak, ketika terjadi antrian di pintu surga, orang-orang miskin masuk surga lebih dahulu 500 tahun. Setelah itu baru orang-orang kaya mendapat giliran masuk surga.
Hal ini disampaikan Rasulullah SAW. dalam hadisnya:
يدخل الفقراء الجنة قبل الأغنياء بخمسمائة عام
Orang-orang miskin masuk surga 500 tahun sebelum orang-orang kaya. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).
Orang miskin seperti apa yang dimaksudkan dalam hadis ini?
Berikut ini dijelaskan para ulama bahwa Miskin ada tiga macam, yaitu:
1. Miskin atau fakir seseorang kepada Allah Yang Maha Hak sebagai Penciptanya.
Orang Miskin seperti inilah yang dimaksudkan Allah SWT. dalam firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir, 35: 15).
2. Miskin menurut masyarakat umum, yaitu tidak memiliki harta dan tidak dapat mencapai tujuan-tujuan dunia. Mereka merasa kaya dengan mendapatkan harta dan fasilitas duniawi lainnya.
3. Miskin hati atau jiwa.
Orang yang tidak akan pernah merasa cukup tidak puas dengan adanya sesuatu yang ada pada dirinya.
Kemiskinan inilah yang dimaksud dalam hadis Nabi SAW.
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ لَأَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ ثَالِثٌ وَلَا يَمْلَأُ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
Andai anak Adam (manusia) memiliki dua lembah emas, niscaya ia menginginkan tiga lembah emas lagi dan tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah dan Allah menerima tobat orang yang bertubat. (HR. Tirmidzi dari Anas bin Malik).
Miskin dalam kategori pertama di atas menurut ulama Tasawuf yang selalu merasa memerlukan Allah dalam situasi dan kondisi apa pun.
Menurut mereka, Miskin adalah orang yang tidak mendapatkan sesuatu selain Allah, tidak akan merasa kaya kecuali hanya dengan Allah, dan tidak dapat merasakan istirahat kecuali dengan hadirnya Allah bersamanya.
Mereka inilah yang dijanjikan akan masuk surga lebih dahulu dengan fasilitas yang melebihi orang-orang kaya, yang di hati, jiwa dan pikirannya hanya material semata, kosong nilai spiritual dan moral.
Sebagian Ulama mengatakan, di antara tandanya orang-orang miskin ialah merasa tenang ketika tidak punya apa-apa dan murah hati ketika punya apa-apa.
Adalah Nabi SAW. biasa berdoa:
“Ya Allah, wafatkanlah aku hingga menjumpai-Mu dalam keadaan miskin, dan janganlah Engkau wafatkan aku hingga menjumpai-Mu dalam keadaan kaya. Kumpulkanlah aku bersama dalam kelompok orang-orang miskin pada hari kiamat.” (HR. Thabarani dari Abu Said).
Semoga hati, jiwa, dan pikiran kita senantiasa ditata dan dilindungi Allah dari sifat rakus terhadap harta yang membuat kita bisa lalai dan lupa ingat pada Allah.
Selengkapnya dapat disimak dalam Youtube channel Wajidi Sayadi.
Pontianak, 23 Nopember 2025