BANYAK DIAM BANYAK SELAMAT

Oleh: Wajidi Sayadi
Materi ini bagian dari Ngaji Hadaiq al-Haqaiq Rutin Ahad Subuh di Surau Babul Jannah Pontianak.
Selengkapnya dapat disimak dalam Youtube Channel Wajidi Sayadi.
Dalam beragama dan bermasyarakat, banyak diam tberarti banyak jalan untuk selamat dunia akhirat.Betapa banyak masalah yang muncul salahsatu penyebabnya adalah karena banyak bicara.
Banyak diam saat ini termasuk mendiamkan jari-jari untuk tidak meng-share berita dan gambar hoaks, tidak mengetik pada HP-nya kata-kata atau bahasa dusta, fitnah atau yang bisa menyebabkan orang lain tersakiti, dan lainnya.
Banyak diam atau banyak bicara harus memperhatikan konteksnya, perhatikan waktu dan tempat serta dengan siapa kita lagi sedang bicara.
Ketika banyak bicara untuk menjelaskan masalah agama yang sangat diperlukan terutama untuk menghilangkan kesalahpahaman, maka hal itu sangat baik dan sangat diperlukan.
Demikian juga banyak bicara untuk menjelaskan dan mengklarifikasi kesalahpahaman dalam masyarakat yang dapat menimbulkan masalah dan konflik social adalah sangat baik dan diperlukan.
Ketika banyak bicara yang tidak diperlukan, bahkan justru menimbulkan masalah, pada diri pribadi, keluarga, masyarakat dan sosial lainnya, maka banyak diam adalah yang terbaik.
Diam dalam konteks seperti ini jauh lebih baik dan akan selamat dari permasalahan.
Ar-Razi (660 H) memulai pembahasan dalam kitabnya dengan firman Allah:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. (QS. al-Ahzab, 33: 70).
Qaulan Sadidan artinya perkataan yang benar dan tepat sasaran.
Perkataan yang tidak hanya benar, tapi tepat sasaran, banyak maslahat dan menyelesaikan masalah.
Bukan hanya perkataan benar, tapi menimbulkan masalah dan mudarat.
Kalau tidak bisa berkata baik atau berkata jujur dan tepat, maka sebaiknya diam.
Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW.:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
Ada beberapa hadis Nabi SAW. mengenai pentingnya banyak diam daripada banyak bicara yang tidak diperlukan, banyak bicara yang tidak baik, apalagi bicara dusta dan fitnah. Antara lain:
Nabi Muhammad SAW. bersabda:
البلاء مُوكّل بالمنطق
Musibah itu terwakili dalam bicara”. (HR. Ibnu Abi Syaibah dari Ibnu Mas’ud).
Makin banyak bicara, makin banyak potensi muncullah bala atau musibah.
Dalam hadis lainnya, Nabi SAW. bersabda:
إن أكثر خطايا ابن آدم في لسانه
“Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan manusia, anak cucu Adam adalah pada perkataan di lidahnya”. (HR. Thabarani dan Baihaqi dari Ibnu Mas’ud).
Dalam hadis lainnya, Nabi SAW. bersabda:
من صمت نجا
“Siapa diam, akan selamat”. (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr).
Nabi SAW. pernah ditanya: “Apa keselamatan itu atau bagaimana caranya bisa selamat?” Beliau menjawab: “Jagalah lidahmu atau mulutmu dan tangisilah atau sesalilah dosa-dosamu”. (HR. Tirmidzi dari Uqbah bin Amir).
Manusia diciptakan dengan hanya satu mulut atau satu lidah, dua mata dan dua telinga agar manusia banyak melihat, banyak mendengar dan sedikit bicara.”
Bukan sebaliknya, banyak bicara, sedikit melihat dan sedikit mendengar.
Semoga Bermanfaat
Pontianak, 16 Nopember 2025
Posted in: Akhlak / Tasawuf, Kajian Islam

Leave a Comment