Dibaca 41
Materi ini bagian dari apa yang disampaikan pada Ngaji Hadis Ahad Malam di Masjid Raya Mujahidin Pontianak.
Diriwayatkan dari Abu Dzarr Semoga Allah meridhainya, ia mengatakan, Rasulullah SAW. bersabda:
لَا عَقْلَ كَالتَّدْبِيرِ وَلَا وَرَعَ كَالْكَفِّ وَلَا حَسَبَ كَحُسْنِ الْخُلُقِ
Tidaklah kecerdasan sama dengan Tadbir, tidaklah wara` sama dengan al-Kaff, mengendalikan diri, dan tidaklah kedudukan tinggi sama dengan akhlak mulia.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi dalam Sya’b al-Iman).
Hadis ini dilihat dari segi kualitasnya, termasuk daif karena di antara periwayat dalam sanadnya ada yang majhul, yakni tidak dikenal identitasnya.
Hadis daif karena periwayatnya majhul adalah daif ringan dan boleh digunakan sebagai motivasi beribadah, beramal, motivasi diri, bekerja dan berilmu. Bukan menetapkan masalah hukum halal dan haram, bukan menetapkan boleh dan tidak boleh.
Hadis di atas isinya sebagai nasehat dan motivasi dalam rangka meningkatkan kualitas diri yang lebih baik.
Ada tiga hal yang ditegaskan Nabi SAW., yaitu:
1. Dalam beragama perlu akal pikiran cerdas, dan diiringi dengan at-Tadbir, yaitu tindakan perbuatan yang bijak diawali dengan perencanaan yang baik dan matang.
At-Tadbir adalah mengatur langkah-langkah nyata dalam kehidupan masa depan yang lebih baik.
Pikiran cerdas yang dimiliki perlu diiringi dengan kemampuan mengatur diri dan hidup dengan perbuatan penuh bijaksana.
Akal bukan hanya soal kecerdasan, tapi soal kebijaksanaan dalam berbuat. Pikiran cerdas yang melahirkan berbagai konsep yang masih “Melangit”. Perlu ditindaklanjuti dalam perbuatan aktual yang “membumi”.
2. Perlunya sifat wara‘ mengedepankan kehati-hatian dalam beragama, namun alangkah lebih baiknya lagi ketika mampu menahan dan mengendalikan diri dari segala yang bisa merusak kehidupan dunia lebih-lebih kehidupan akhirat. Menahan dan mengendalikan diri dari kemaksiatan dari ucapan yang tidak pantas dan tidak perlu, menahan diri dari menahan dari perbuatan yang bisa menjerumuskan. Kemampuan mengendalikan dan menahan diri inilah namanya al-Kaff yang tidak sama al-Wara’.
3. Tidak ada kemuliaan seperti akhlak mulia. Kemuliaan bukan semata-mata karena nasab, harta, jabatan, kedudukan, atau kekuatan, tetapi akhlak mulia yang sangat menentukan. Akhlak mulia adalah mahkota kemuliaan yang paling diakui Allah dan manusia. Akhlak adalah ukuran kemuliaan sejati. Islam menempatkan akhlak sebagai standar kehormatan.
Hadis tersebut di atas memberikan standar kualitas seseorang:
1. Orang cerdas dan bijak adalah yang bisa mengelola hidupnya dengan baik dan benar.
2. Orang bertakwa adalah yang mampu mengendalikan diri dari segala kerusakan dan kerakusan berbasis kekuatan spiritual.
3. Orang mulia adalah yang berkarakter dengan akhlak mulia, berbasis kekuatan sosial moral.
Pontianak, 10 Nopember 2025