Dibaca 47
Materi ini bagian dari pembahasan pada Ngaji Hadis Rutin Ahad Malam di Masjid Raya Mujahidin Pontianak Ahad.
Diriwayatkan dari Abu Darda’ Radhiyallahu anhu, ia menceritakan: “Rasulullah SAW. menceramahi kami dengan sabdanya:
ثَلَاثٌ لَا يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَالنَّصِيحَةُ لِكُلِّ مُسْلِمٍ وَلُزُومُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ فَإِنَّ دُعَاءَهُمْ يُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
Ada tiga hal yang hati seorang muslim tidak akan ada iri atau dengki di dalamnya: Ikhlas beramal hanya untuk Allah, nasehat sesama muslim, dan selalu berada dalam jamaah umat Islam, karena doa mereka akan menjaga mereka dari arah belakang”. (HR. Darimi).
Dalam hadis ini mengingatkan bahwa ada tiga yang perlu dilakukan untuk menjaga hati agar tidak rusak dan tidak kotor, yakni tidak akan muncul rasa iri atau dengki dalam hati, Keikhlasan dalam ibadah dan amal lainnya, selalu saling menasehati secara baik dan benar, dan selalu menjaga ukhuwah, persaudaraan dan persatuan sesama umat.
1. Ikhlas dalam beramal hanya semata-mata untuk Allah
Melaksanakan suatu amalan ibadah berdasarkan adanya perintah agama dan hanya ingin mendapatkan ridha Allah semata. Ada yang lihat atau tidak, dalam suasana sendirian atau di tengah-tengah keramaian, ada yang suka, atau mau memuji atau mencela, atau membenci tidak ada urusan dan tidak ada pengaruhnya.
Dengan cara seperti ini berarti hati bisa terjaga dari sifat riya’ dan pura-pura. Sifat seperti ini adalah bagian dari penyakit hati sebagaimana penyakit iri hati atau dengki.
Ikhlas akan membuat hati lebih sehat, bersih, tenang, aman, dan nyaman tanpa beban oleh apa dan siapa pun.
2. Rela menerima dan memberi nasehat kepada sesama
Dalam hadis di atas cara kedua menjaga hati agar tidak terjangkiti penyakit seperti iri hati adalah dengan senantiasa rela memberi dan menerima nasehat terhadap sesama umat Islam. Dalam hadis lainnya yang diriwayatkan imam Ahmad bersumber dari Anas bin Malik disebutkan, وَمُنَاصَحَةُ أُولِي الْأَمْرِ (saling menasehati terhadap para pemimpin atau penguasa).
Kerelaan memberi nasehat berarti ada kepedulian dan senang melihat sesama saudara dalam keadaan baik. Begitu juga rela menerima nasehat berarti mengakui adanya kekurangan dan kelemahan diri. Pengakuan ini namanya tawadhu’.
Rasulullah SAW. menegaskan:
إِنَّ الدِّينَ النَّصِيحَةُ (Sesungguhnya agama itu adalah nasehat. (HR. Abu Daud dari Tamim ad-Dariy).
Manusia dengan segala keterbatasannya seringkali lalai dalam menjalankan ajaran agama. Kelalaiannya itulah digambarkan seperti kain yang banyak bolong atau lubangnya. Adanya nasehat itulah yang menutupi bolong-bolongnya, menutup kecacatannya. Nasehat yang dimaksud adalah nasehat dengan bahasa dan kalimat yang baik dan menyenangkan.
Berlapang dada atau berjiwa besar selalu siap menerima dan memberi nasehat berarti merasa rendah hati atau tawadhu. Ini adalah bagian dari menjaga hati.
Sebaliknya, mereka yang tidak rela memberi atau menerima nasehat, bahkan justru tersinggung dan marah berarti kemungkinan ada penyakit hati, seperti angkuh dan sombong.
3. Konsisten menjaga loyalitas dan solidaritas kebersamaan umat.
Selalu tetap berada dalam jamaah barisan persaudaraan dan persatuan umat. Peduli menjaga kebersamaan, persaudaraan, dan berpegang teguh pada persatuan umat adalah bagian dari cara menjaga hati dari berbagai penyakit.
Ketika merasa berbeda, merasa hebat, merasa lebih dari daripada orang-orang kebanyakan lainnya sehingga tidak mau bergabung dalam jamaah berarti ada rasa ujub dan sombong. Apalagi senang melihat konflik, permusuhan dan perpecahan sesame umat, ini adalah penyakit hati.
Semakin tinggi rasa solidaritas dan loyalitas terhadap kebersamaan dan keberjamaahan umat berarti semakin bagus upaya menjaga kebersihan hati. Rasulullah SAW. bersabda:
الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
Konsisten menjaga jamaah kebersamaan, persaudaraan dan persatuan sesame umat akan mudah turunnya rahmat. Bercerai berai berarti membuka pintu munculnya bencana dan musibah, terutama musibah penyakit hati. (HR. Ahmad dari an-Nu’man bin Basyir).
Pontianak, 7 September 2025