MENGASAH JIWA ISTIQAMAH DALAM PRINSIP BERAGAMA

Berikut ini materi khutbah Jumat dengan judul tersebut di atas.
Semoga bermanfaat.
Alhamdulillah kita senantiasa bersyukur, berterima kasih ke Hadirat Allah SWT. atas segala limpahan Rahmat-Nya kita dapat melakukan berbagai aktivitas. Shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. sebagai teladan dan panutan kita untuk menjadi yang terbaik. Rasulullah SAW. pernah ditanya:
أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ
Siapakah manusia yang terbaik wahai Rasulullah? Beliau menjawab: ”Orang yang panjang umurnya dan kualitas amalnya makin baik. Lalu ditanya lagi, siapakah manusia yang terburuk? Beliau menjawab: ”Orang yang panjang umurnya, tapi kualitas amalnya justru makin buruk. (HR. Tirmidzi dari Abi Bakrah).
Hadis ini mengajak dan memotivasi kita seiring dengan semakin banyaknya nikmat fasilitas yang Allah telah berikan, seharusnya semakin meningkat kualitas hidup dan kehidupan keagamaan kita.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadi yang terbaik, antara lain dengan selalu mengasah jiwa istiqamah berpegang pada prinsip beragama:
1. Prinsip Tauhid.
Kata Ulama:
الحياة عقيدة وجهاد
Hidup itu berlandaskan akidah dan diikuti kerja cerdas dan ikhlas
Maksudnya, kita harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa landasan pokok kehidupan didasarkan pada keyakinan Tauhid kepada Allah SWT. Puncak Tauhid bagi seorang Muslim pada kalimat لا إله إلا الله maksudnya لاَ مَعْبُوْدَ بِحَقٍّ اِلاَّ اللهُ (Tidak ada yang berhak dan wajib disembah dengan sebenar-benarnya kecuali hanya Allah). لاَ خَالِقَ اِلاَّ اللهُ (Tidak ada pencipta segala makhluk kecuali Allah). لاَ مَالِكَ اِلاَّ اللهُ (Tidak ada Pemilik dan Penguasa bagi semesta alam kecuali Allah). لاَ رَازِقَ اِلاَّ اللهُ (Tidak ada Pemberi rezki kecuali Allah). لاَ غَايَةَ الْحُبِّ اِلاَّ للهِ (Tidak ada puncak dan tujuan kecintaan kecuali hanya untuk Allah).
Termasuk bagian dari akidah-tauhid adalah menerima dengan lapang dada semua ketentuan takdir Allah. Rasulullah SAW. menegaskan:
وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ
Terimalah dengan senang dan gembira apa yang Allah sudah takdirkan untukmu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya. (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Dengan dasar keyakinan Tauhid seperti ini, membuat hati kita lebih tenang selalu bersyukur apa yang ada. Tidak banyak menyalahkan orang lain, dan tidak banyak mengeluh. Inilah kekayaan yang sebenarnya.
2. Prinsip Kerja keras
Walaupun secara teologi sudah diyakini bahwa segala sesuatu sudah ditentukan dan diatur oleh Allah, termasuk rezki manusia, namun agama juga mengajarkan supaya kita harus optimis dan berusaha sesuai kemampuan kita. Islam adalah agama kerja, agama dinamis, dan agama produktif.
Bukhari meriwayatkan dari Hakim ibn Hizam, katanya: “Aku pernah meminta kepada Rasulullah SAW. dan beliau memberi apa yang aku minta. Lalu aku minta lagi dan beliau memberi lagi apa yang aku minta. Sesudah itu aku minta lagi, dan beliau memberi lagi apa yang aku minta. Sesudah itu beliau bersabda: الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah.”
Tangan yang di atas adalah tangan yang rajin bekerja, tangan produktif yang menghasilkan. Tangan yang di bawah adalah tangan yang pasif, tahunya hanya menerima pemberian dan bantuan dari orang lain.
Hadis ini mengajak dan memotivasi, bahwa umat Islam harus selalu optimis dan produktif, kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja cerdas. Dalam al-Qur’an, semua waktu disumpahkan Allah, misalnya والفجر والضحى والنهار والليل والعصر. Maksudnya agar supaya waktu-waktu ini diperhatikan dan digunakan maksimal dalam bekerja. Banyak orang sukses, salah satu satu faktornya, karena mampu memanfaatkan waktu dengan baik.
3. Prinsip Keseimbangan
Bekerja tidak hanya untuk kepentingan dunia semata, akan tetapi bekerja juga untuk agama dan akhirat sehingga bekerja menjadi ibadah di sisi Allah. Allah Ta’ala berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا ءَاتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Dan carilah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia. (QS. Al-Qashash, 28: 77).
Ketika Nabi SAW. bertemu dengan Abdullah ibn Amr ibn Ash yang kelihatan pucat wajahnya seperti kurang sehat karena tenaganya diporsir hanya ibadah malam hari tanpa tidur, maka Nabi SAW. menegurnya:
قُمْ وَنَمْ وَصُمْ وَأَفْطِرْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
Shalat malamlah, ketika tiba waktunya tidur, maka tidurlah. Karena matamu ada haknya untuk tidur. Berpuasalah, tapi ketika tiba waktu berbuka, maka berbukalah, sebab tubuh (perut)mu ada haknya yang dipenuhi. Demikian juga keluargamu ada haknya yang harus engkau penuhi. (HR. Bukhari dari Abdullah ibn Amr).
Inilah contoh prinsip keseimbangan, keperluan spritual dipenuhi, dan keperluan fisik material juga harus dipenuhi, tak boleh diabaikan.
Demikian juga keseimbangan antara keperluan individu, keluarga, dan sosial kemanusiaan.
4. Prinsip Tanggung Jawab
Hidup ini adalah tanggung jawab, baik secara pribadi, keluarga, maupun secara sosial. Rasulullah SAW. bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. (HR. Bukhari dari Ibnu Umar).
Sekecil apapun yang pernah diucapkan dan dilakukan pasti akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Salah satu nikmat Allah adalah nikmat persaudaraan dan persahabatan.
Manusia adalah makhluk sosial, tak mungkin bisa hidup dengan baik dan nyaman tanpa bantuan dan kebersamaan dari orang lain. Adanya bantuan, kebersamaan dalam jalinan persahabatan dan persaudaraan adalah nikmat Allah yang wajib disyukuri.
Allah Ta’ala menegaskan:
وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِه اِخْوَانًاۚ
ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (QS. Ali ‘Imran: 103).
Merawat dan menjaga kebersamaan, memelihara kedamaian dan kenyamanan bersama dalam keragaman di tengah-tengah masyarakat adalah tanggung jawab kita semua dari berbagai pihak.
Rasulullah SAW. mengingatkan:
الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
Berjamaah, menjaga kebersamaan dan selalu bersinergi akan memudahkan turunnya Rahmat Allah.
Sebaliknya, bercerai-berai, berkomplik, dan bermusuhan, adalah malapetaka, memudahkan munculnya adzab. (HR. Ahmad dari Nu’man bin Basyir).
Mempawah, Jumat 20 Januari 2023
Posted in: Kajian Islam

Leave a Comment