Seri Kajian Hadist : Agama adalah Nasihat

Sebagaimana biasa dalam Kajian Kitab Sahih Bukhari. Salah satu hadis yang dibahas dari Kitab Sahih Bukhari adalah tentang Agama adalah Nasehat.

Dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan 
بَاب قَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدِّينُ النَّصِيحَةُ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ وَقَوْلِهِ تَعَالَى{ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ }

Bab mengenai Sabda Nabi SAW. Agama adalah Nasehat, bagi Allah, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan umat Islam. Dan firman Allah Ta’ala “Apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya” (QS. At-Taubah, 9: 91).

Imam Bukhari dalam kitabnya Sahih Bukhari menyebutkan hadis tersebut tanpa sanad. Hadis yang dibuang sanadnya seperti ini disebut hadis Mu’allaq. Dalam studi hadis, hadis mu’allaq bagian dari hadis daif. Akan tetapi, hadis mu’allaq yang terdapat dalam kitab Sahih Bukhari adalah sahih, sebab hadis ini bersambung sanadnya di tempat lainnya, baik di dalam kitabnya sendiri atau pun terdapat dalam Kitab Sahih lainnya.

Teks hadis yang disebutkan imam bukhari di atas terdapat dalam Kitab Sahih Muslim, yaitu:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ. (م 1/ 53)
“Agama adalah nasehat. Para sahabat bertanya, untuk siapa? Beliau menjawab: “untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin umat Islam, dan sesame umat Islam. (HR. Muslim dari Tamim ad-Dariy).

Kalimat الدِّينُ النَّصِيحَةُ (Agama itu Nasehat) dalam hadis ini menunjukkan bahwa betapa kedudukan Nasehat yang sangat penting dalam beragama. Nasehat merupakan pilar agama, sebagaimana teks hadis Nabi SAW. menyebutkan الْحَجُّ عَرَفَةُ (Haji itu Arafah. HR. Abu Daud dari Abdurrahman bin Ya’mar). Maksudnya Wukuf di Arafah merupakan pilarnya Haji, yakni bagian terbesar dari prosesi pelaksanaan ibadah haji adalah Arafah, sebagai rukun. Demikian juga dalam beragama Nasehat merupakan pilar dan bagian terbesar, sehingga tidak boleh diabaikan.

Kata النَّصِيحَةُ artinya ikhlas, sebagaimana dalam firman Allah yang dikutip imam Bukhari di atas pada surat at-Taubah ayat 91. { إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ }Kata نَصَحُوا dalam ayat ini artinya berlaku ikhlas. Nasehat dalam pengertian ikhlas dalam beragama merupakan pilar, sebab ibadah yang dilakukan sangat ditentukan oleh keikhlasan. Termasuk semangat dan motivasi dalam bekerja sangat ditentukan oleh keikhlasan.

Kedua, oleh para ulama menjelaskan bahwa kata النَّصِيحَةُ dalam hadis di atas artinya menjahit. Misalnya dalam kalimat نصح الرجل ثوبه اي خاطه artinya seorang laki-laki menjahit bajunya. Biasanya pakaian dijahit karena robek, koyak, bocor, atau lubang sehingga dengan jahitan itu, maka robekan, lubang atau bocoran itu menjadi tertutupi.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Kitab Fath al-Bariy menyatakan: 
كأن الذنب يمزق الدين والتوبة تخيطه
Diibaratkan seperti dosa itu merobek agama, maka dengan nasehat agar taubat sebagai jahitannya.

Setiap orang dalam kehidupannya berinteraksi dengan banyak pihak dalam keadaan situasi yang beragam sangat berpotensi melakukan berbagai kelalaian dan kesalahan, maka nasehat menjadi sesuatu yang niscaya.

Orang yang merasa tidak perlu nasehat dikhawatirkan ada sesuatu “penyakit” dalam dirinya, seperti egois, sombong dan takabbur. Biasanya orang seperti ini seringkali ceroboh alias gegabah. Betapa banyak orang yang gagal dan tersingkir serta “binasa” bukan karena kebodohannya, akan tetapi karena kecerobohannya, merasa pintar segalanya, tidak mau mendengarkan nasehat.

Kepada siapa nasehat itu? 
لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ.
Rasulullah SAW. menegaskan, yaitu untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin, dan kepada sesama umat Islam.

Nasehat untuk Allah, maksudnya beriman kepada Allah dan menghindari semua yang bisa menyekutukan dengan-Nya, taat kepada-Nya dan menjauhi segala kemaksiatan dan larangan-Nya.

Nasehat untuk Kitab-Nya, maksudnya beriman kepada Al-Qur’an, mengagungkannya, membacanya dengan sepenuh hati, membaguskan bacaan al-Qur’an, memahami ilmu-ilmunya dan membenarkan isi kandungannya, mengamalkan dan mendakwahkannya.

Nasehat untuk Rasul-Nya, maksudnya membenarkan dengan sepenuh hati utusan Allah dan semua yang disampaikannya, mentaatinya, membela Beliau dan ajarannya, mencintai siapa yang dicintainya, menyebarkan dakwah dan sunnah Beliau, berakhlak dengan akhlak Beliau.

Nasehat untuk para pemimpin, maksudnya membantu mereka dalam menegakkan kebenaran, memetauhi mereka dalam hal kebenaran, mengingatkan mereka tentang apa yang mereka lalaikan dengan cara lemah lembut dan atau yang sewajarnya, serta mendoakan mereka para pemimpin agar mereka bisa menjalankan amanah tugas dan tanggung jawabnya dengan baik dan sebaik-baiknya. Bukan diolok-olok, bukan dicaci maki, bukan dicari-cari kesalahannya lalu disebarluaskan.

Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan sehingga sangat berpotensi melakukan berbagai kelalaian, apalagi seorang pemimpin tanggung jawabnya sangat besar. Semakin besar tanggung jawab seseorang akan semakin banyak pula pahalanya yang diperoleh. Makanya, Rasulullah SAW. menegaskan bahwa ada tujuh golongan yang mendapat naungan Allah, di padang mahsyar, yang pertama adalah pemimpin yang adil, (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Dengan kebijakan seorang pemimpin, mungkin hanya tanda tangan di atas selembar kertas bisa merubah nasib orang banyak, misalnya kenaikan gaji, atau menghindarkan orang banyak dari kemaksiatan melalui adanya Undang-undang atau peraturan pemerintah, dan lain-lain. 
Dengan tanggung jawab yang begitu besar, maka perlu dibantu dengan doa kemudahan, keselamatan, kenyamanan, dan kesejahteraan untuk pemimpin dan yang dipimpinnya.

Seorang kepala keluarga yang punya istri dan anak-anaknya di rumah, masih banyak kekurangan dan kelalaiannya, padahal yang diurusi hanyak istri dan anak-anaknya.

Seorang ketua dan pengurus masjid atau lembaga pendidikan, pasti masih banyak kekurangan dan kelalaiannya, padahal yang diurusi hanya sekitar masjid dan lembaganya itu.

Seorang Ketua RT. atau RW, kepala dusun, masih banyak kekurangan dan kelalaiannya, padahal yang diurusi hanya sekelompok warga dan masyarakat sekitarnya.

Seorang Kepala Desa, pasti banyak kekurangan dan kelalaiannya, padahal yang diurus hanya warga yang ada di Desanya. Begitu juga seorang camat dan Bupati, tentu lebih banyak yang diurusi dan tanggung jawabnya, karena luas dan banyaknya warganya, apalagi seorang Gubernur, apalagi seorang Presiden.

Oleh agama Islam sebagaimana dalam hadis di atas mengajarkan agar selalu saling menasehati di antaranya untuk para pemimpin misalnya mendoakan meraka agar bisa menjalankan amanah dan tanggung jawabnya dengan baik dan sebaik-baiknya sehingga berdampak kemaslahatan bagi rakyat yang dipimpinnya. Semakin banyak gangguan terhadap pemimpin pasti akan berdampak buruk juga kepada rakyat yang dipimpinnya.

Adapun nasehat terhadap sesama umat umat Islam adalah saling menyayangi, saling mencintai, saling pengertian, saling membantu, saling mengarahkan kepada kebaikan, kemaslahatan, saling menutup aib kecacatan, dan menghindarkan diri dari bahaya dunia dan bahaya akhirat.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab.

Pontianak, 25 Februari 2019.

Posted in: Hadist dan Ilmu Hadist, Kajian Islam

One Comment

  1. Edi says:

    Ijin copas,,,,kiyai

Leave a Comment