Menyambut Tahun Baru dengan Memperbaiki Kualitas Diri

Alhamdulillah, hari ini tgl 20 Rabi’ul Akhir 1440 H bertepatan dengan 28 Desember 2018 sebagai penghujung tahun, tiga hari lagi masuk pergantian tahun baru 2019 yang menunjukkan ada tambahan umur, walaupun hakekatnya usia makin pendek menuju ke Hadirat Allah. Oleh karena itu, marilah senantiasa meningkatkan kualitas hidup, khususnya kehidupan keagamaan kita menjadi yang terbaik di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW. pernah ditanya: 
أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ (الترمذى)
Siapakah manusia yang terbaik ya Rasulullah SAW.? Rasulullah SAW. menjawab: ”Orang yang terbaik ialah orang yang panjang umurnya dan kualitas amalnya makin bagus. Lalu ditanya lagi, manusia yang terburuk? Beliau menjawab: ”Orang yang umurnya panjang, tapi kualitas amalnya justru makin buruk. (HR. Tirmidzi dari Abi Bakrah). 
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadi yang terbaik dengan selalu memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri dan kualitas hidup, antara lain:

1. Muhasabah diri, mengevaluasi diri selama setahun ini, seberapa banyak kesalahan dan dosa kita? Bagaimana amal baik kita? Sehingga kita bisa berbuat yang lebih baik pada tahun berikutnya. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ 
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. (QS. Al-Hasyr, 59: 18). 
Umar bin Khattab, berpesan: 
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
Hisablah (introspeksilah) dirimu sebelum kamu dihisab. (HR. Tirmidzi).

2. Selalu memperbaiki niat dan meningkatkan ikhlas dalam berbuat dan bekerja. Niat dan ikhlas inilah yang menjadi penentu. Banyak perbuatan yang sesungguhnya adalah perbuatan dunia, tetapi karena niatnya baik dan benar, maka semuanya bernilai ibadah di sisi Allah. Sebaliknya, perbuatan akhirat, tetapi karena niatnya keliru, maka semuanya menjadi sia-sia. Inilah yang dimaksudkan Rasulullah SAW. dalam hadis
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا ِلإ مْرِئٍ مَا نَوَى
Sesungguhnya amal tergantung pada niatnya. Dan setiap orang (akan memperoleh) sesuai apa yang diniatkan. (HR. Bukhari dari Umar bin Khattab).

3. Selalu memanfaatkan waktu dengan baik. Jangan sampai terlalu banyak waktu kita sia-siakan. Jangan sampai lebih banyak waktu digunakan untuk menceritakan kejelakan dan kekurangan orang lain, sementara kita lupa terhadap kekurangan diri kita sendiri. Mari kita manfaatkan waktu untuk banyak beribadah, belajar, bekerja, dan mencari solusi dan peluang usaha yang lebih baik. Termasuk tidak perlu ikut-ikutan pesta hura-hura menyambut tahun baru masehi. Rasulullah SAW. menasehati kita semua:
اغتنم خمسا قبل خمس: شبابك قبل هرمك و صحتك قبل سقمك و غناك قبل فقرك و فراغك قبل شغلك و حياتك قبل موتك
Perhatikanlah lima hal sebelum datang yang lima; mudamu sebelum tuamu, masa sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu, masa luangmu sebelum sibukmu, dan masa hidupmu sebelum matimu. (HR. Hakim).

4. Membangun jiwa yang selalu optimis, penuh semangat, dan produktif. Bukhari meriwayatkan hadis yang bersumber dari Hakim ibn Hizam, katanya: “Aku pernah meminta kepada Rasulullah SAW. dan beliau memberi apa yang aku minta. Lalu aku minta lagi dan beliau memberi lagi apa yang aku minta. Sesudah itu aku minta lagi, dan beliau memberi lagi apa yang aku minta. Sesudah itu beliau bersabda: “Ya Hakim, harta itu sangat banyak dan ada di mana-mana. Maka barangsiapa yang bersikap dermawan ia akan diberi berkah. Dan barangsiapa yang menghadapi harta itu dengan jiwa yang rakus, maka ia laksana orang yang makan namun tak pernah merasa kenyang. الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى Tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah.” Lalu Hakim berkata: “Ya Rasulullah, Demi Zat yang mengutus Anda dengan membawa kebenaran, aku tidak akan meminta-minta lagi kepada siapa pun sesudah meminta kepada Anda sekarang ini hingga aku meninggal dunia.” 
Tangan di atas maksudnya tangan produktif yang bisa menghasilkan. Tangan di bawah maksudnya, tangan malas bekerja dan konsumtif banyak mengandalkan pemberian orang lain.

5. Membiasakan diri untuk menghormati perbedaan dan selalu bersedia bekerjasama dengan orang lain, siap menerima saran, nasehat, dan kritikan serta memberi manfaat kepada orang lain. Berjiwa besar menerima perbedaan dan keragaman akan sangat mempermudah tumbuhnya kebersamaan dan kesatuan menuju peningkatan dan kemajuan yang lebih baik. Tapi kalau kita masih lebih mementingkan ego kepentingan diri dan kelompok dan menganggap bahwa yang paling benar adalah kelompok kita maka sulit kita merubah dan meningkatkan kualitas diri yang lebih baik. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari bersumber dari Abdullah ibn Amr, ada seorang sahabat bertanya, kepada Rasulullah SAWاي الإسلام خير ؟ (amal apakah yang terbaik dalam Islam?) Beliau menjawab: 
تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ 
Engkau memberi makan, mengucapkan as-salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang belum engkau kenal.

6. Menghindari banyak berburuk sangka atau pikiran negatif kepada orang lain. Banyak orang sukses salah satu sebabnya karena lebih banyak berpikiran positif. Sebaliknya banyak orang gagal salah satu faktornya karena selalu berburuk sangka dan pikiran negatif kepada orang lain. 
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka buruk, sesungguhnya sebagian prasangka buruk itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. (QS. Al-Hujurat, 49: 12).

Apalagi saat ini, tahun politik dan banyak kepentingan tertentu, segala macam berita melalui media sosial online, antara fakta, rekayasa, berita bohong, hoax, dan provokasi politik, antara berita politik dan berita agama, sosial dan budaya, sulit dibedakan, semuanya sampai dan masuk ke dalam HP kita, maka Islam mengajarkan agar selalu bersikap hati-hati, selektif, tabayyun, perlu klarifikasi. Jangan langsung percaya begitu saja, apalagi langsung menyebarluaskan, men-share, padahal boleh jadi, itu adalah ulah kelompok tertentu untuk memprovokasi, memfitnah dan memecahbelah antar tokoh dan persatuan umat Islam. Jangan sampai kita menghakimi seseorang berdasarkan berita bohong. Kita mencaci maki tokoh agama dan ulama hanya karena berdasar berita bohong dan palsu. Inilah namanya fitnah. Rasulullah SAW. bersabda:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ 
Cukuplah seseorang itu berdusta apabila ia menceritakan (menyebarluaskan) semua apa ia dengar (terima). (HR. Muslim dari Hafsh bin ’Ashim).

Semoga kualitas diri semakin meningkat menuju yang terbaik dalam menyambut tahun baru 2019, bersih dari fitnah, bersih dari hoax, bersih dari provokasi politik kotor yang semata-mata untuk kemenangan, tapi mengabaikan kebenaran.

Pontianak, 28 Desember 2018.

Posted in: Kajian Islam

One Comment

  1. edy says:

    ijin copas kiyai

Leave a Comment