Dibaca 16
PONTIANAK — wajidisayadi.com Dalam momentum peringatan Nuzulul Quran, Guru Besar Ilmu Hadis IAIN Pontianak sekaligus Wakil Ketua Umum MUI Kalbar, Prof. Dr. KH. Wajidi Sayadi, M.Ag., mengingatkan umat Islam bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang untuk dibaca, melainkan pedoman hidup yang menuntun manusia pada keadilan dan perdamaian.
Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber dalam program Dialog Publik bertajuk “Al-Qur’an Sebagai Wasilah Perdamaian Dunia” yang disiarkan langsung oleh TVRI Kalbar pada Selasa (10/3). Dipandu oleh host Inda Alinda, Prof. Wajidi mengupas tuntas nilai-nilai perdamaian yang terkandung di dalam Al-Qur’an.
Menurut Prof. Wajidi, konsep perdamaian atau as-shulhu dalam Islam sangatlah luar biasa. Ia menyebutkan bahwa istilah ‘amal saleh’ yang akrab di masyarakat pada hakikatnya adalah amal yang menciptakan kedamaian.
“Damai pertama di hati kita, berdamai dengan diri kita, damai terhadap keluarga, lingkungan, dan kepada siapapun. Bahkan termasuk berdamai dengan lingkungan, dalam hal ini hewan dan tumbuh-tumbuhan,” jelas Prof. Wajidi. Ia menambahkan bahwa terdapat tidak kurang dari 50 ayat di dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang pentingnya perdamaian.
Fondasi Perdamaian: Kasih Sayang dan Menghargai Keragaman
Prof. Wajidi memaparkan bahwa untuk menciptakan perdamaian, hal pertama yang harus ditumbuhkan adalah rasa kasih sayang yang akan melahirkan akhlak terpuji. Mengutip ayat Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin, ia menegaskan bahwa keberadaan Nabi Muhammad SAW beserta Al-Qur’an yang dibawanya adalah untuk menjadi rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam.
Langkah kedua adalah kewajiban menghargai keragaman (pluralitas). Prof. Wajidi menekankan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mengelola keragaman menjadi modal besar, bukan menjadikannya pemicu konflik.
“Bagaimana kita bisa berdamai kalau kita merasa lebih hebat daripada orang lain. Perdamaian itu bisa muncul kalau kita menghargai keragaman. Bagaimana caranya? Ya bersikap toleran dan bersikap moderat,” tegasnya.
Dari penghargaan terhadap keragaman inilah lahir ukhuwah atau persaudaraan. Ia membagi persaudaraan ini ke dalam beberapa tingkatan: Ukhuwah Wathaniyah (saudara sebangsa setanah air tanpa memandang agama atau suku), Ukhuwah Basyariyah (saudara sekemanusiaan), dan Ukhuwah Islamiyah (saudara seiman), serta persaudaraan sesama makhluk ciptaan Tuhan, termasuk hewan.
Makna Tersirat Iqra dan Peran Pemimpin yang Adil
Lebih jauh, pakar tafsir dan hadis ini mengaitkan wahyu pertama yang turun, yakni perintah Iqra (bacalah) dan Qalam (menulis), dengan upaya membangun peradaban yang damai.
“Membaca bukan sekadar membaca teks, tapi membaca itu adalah simbol pergerakan. Termasuk kemampuan membaca tanda-tanda alam, potensi diri, dan membaca hal-hal apa yang bisa menumbuhkan perdamaian,” urainya. Sementara perintah menulis (qalam) dimaknai sebagai pentingnya melahirkan karya dan membuat perjanjian-perjanjian perdamaian secara tertulis antar kelompok agar dapat dipercaya dan langgeng.
Dalam konteks penyelesaian konflik, Prof. Wajidi menyoroti pentingnya sikap adil, terutama bagi para pemimpin. Pemimpin yang adil ibarat wasit yang netral di tengah pertikaian.
“Jangan pernah menjadikan kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kita tidak bisa berlaku adil. Sikap adil yang bisa menciptakan perdamaian itu dimulai dari hal-hal kecil, hingga ke tingkat pemerintah. Kalau tidak bisa berbuat adil, yang muncul adalah kezaliman, yang berujung merusak perdamaian,” ingatnya.
Harmoni Keberagaman di Kalimantan Barat
Menutup dialognya, Prof. Wajidi memuji tingginya tingkat toleransi di Kalimantan Barat. Ia mencontohkan harmoni yang tercipta saat momen perayaan ibadah yang berdekatan seperti Ramadan dan Imlek, hingga tren unik di mana masyarakat non-muslim turut antusias meramaikan war takjil.
Selain itu, ia juga mencontohkan keterlibatan non-muslim sebagai panitia dalam ajang MTQ, serta inisiatif pimpinan perusahaan non-muslim yang menggelar buka puasa bersama bagi karyawan muslimnya.
“Itulah bukti nyata tentang toleransi dan keragaman kita di Kalimantan Barat. Tidak ada yang saling mengganggu karena berawal dari keyakinan untuk saling menghargai. Semangat harmoni dan moderasi inilah yang menjadi khasnya Kalimantan Barat,” tutup Prof. Wajidi. (red)